Fala.co.id — Kematian seorang siswi SMP berusia 13 tahun di Desa Ocimaloleo, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan, berinisial AA alias Asriyani menyisakan tanda tanya bagi keluarga, guru, dan warga. Polisi kini mendalami penyebab serta rangkaian peristiwa yang mendahului kematian AA.
AA ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada Minggu (9/8/2026), sekitar pukul 16.00 WIT. Keluarga menyebut AA ditemukan dalam kondisi yang mengarah pada dugaan bunuh diri.
Namun, sejumlah orang yang mengenal AA mengaku sulit memahami peristiwa tersebut. Di sekolah, AA dikenal sebagai siswi yang pendiam, ramah, tidak bermasalah, dan memiliki prestasi akademik.
Kepala Desa Ocimaloleo, Samuel Jefris Beo, mengatakan pemerintah desa belum mengetahui secara pasti persoalan yang mungkin melatarbelakangi kematian AA.
“Yang kami tahu, ada salah satu warga kami yang meninggal akibat gantung diri. Masalah pokoknya Pemdes juga tidak tahu kronologis lengkapnya. Karena orang tuanya tidak terlalu terbuka kepada kami,” ujar Samuel, Selasa (11/8/2026).
Menurut Samuel, AA selama ini dikenal sebagai anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah di lingkungan masyarakat. “Padahal kami tahu dia itu anak baik, ramah. Anak itu memang pendiam, tapi anaknya tidak pernah manakal. Yang kami tahu, dia siswa berprestasi,” akunya.
Kepala SMP Sofyan Soisa mengatakan dirinya terpukul dan terkejut mendengar kematian siswanya. Ia mengaku tidak mengetahui adanya persoalan serius yang sedang dihadapi AA.
“Saya tidak memahami motif peristiwa tersebut. Karena AA merupakan seorang siswi yang dikenal baik dan memiliki prestasi.
“Dia itu siswa yang baik dan berprestasi. Kenapa bisa seperti ini, sangat tidak mungkin menurut akal sehat. Ini anak paling baik dan sering juara di sekolah,” sambungnya.
Sofyan mengatakan pihak sekolah tidak pernah menerima laporan mengenai masalah serius yang dialami AA.
“Sejujurnya saya begitu heran kalau dia sampai bunuh diri, ini pasti ada yang janggal. Mungkin ada masalah yang dipendam, tapi tidak pernah disampaikan kepada kami pihak sekolah,” ujarnya.
Sofyan menegaskan pernyataan tersebut merupakan bentuk keheranan dan kekhawatirannya terhadap kondisi siswanya, bukan kesimpulan mengenai penyebab kematian AA.
Marta, guru dari AA, juga mengaku terkejut. Menurut dia, AA merupakan salah satu siswi berprestasi di kelas VIII SMP 19 Halsel. “Kami tidak menyangka secepat itu, karena dia salah satu siswa berprestasi di kelas VIII SMP 19 Halsel,” ujarnya.
Marta mengatakan AA dikenal sebagai siswi yang baik dan tidak nakal. “Prestasinya bagus. Kesehariannya di sekolah baik, tidak nakal.”
Warga setempat, Joni Totononi, mengatakan masyarakat masih sulit menerima kabar mengenai kematian AA. Ia berharap polisi tidak berhenti pada informasi awal dan melakukan penyelidikan secara menyeluruh.
“Kami juga ragu, kalau anak seperti dia lalu bunuh diri. Ini aneh,” katanya.
Ia meminta aparat kepolisian mendalami motif dan rangkaian peristiwa yang menyebabkan A meninggal. “Kalau saya, polisi seharusnya datang dan periksa dulu, selidiki dulu. Apa motifnya sampai dia bunuh diri. Itu yang kami harapkan,” pintanya.
AT alias Asri, ibu dari AA, menceritakan kondisi keluarga sebelum anaknya ditemukan meninggal. Pada Minggu pagi, A pulang dari ibadah gereja sekitar pukul 09.00 WIT. Keluarga kemudian makan siang sekitar pukul 12.00 WIT sebelum orang tua AA pergi ke kebun.
“Kami bertiga, saya, papanya dan AA. Setelah makan siang, kami pergi ke kebun, tapi suami saya duluan saya menyusul dari belakang,” tutur AT.
Sekitar pukul 15.00 WIT, AT mengaku sempat mengajak AA pergi ke kebun. Namun AA masih tidur. Ketika kedua orang tuanya berada di kebun, anak bungsu keluarga yang berusia sekitar enam tahun sempat kembali ke rumah dan memanggil ibunya.
“Tiba-tiba anak saya yang bungsu datang panggil, Mama, mama, pulang dulu. Saya dengar, tapi tidak terlalu hiraukan. Tak lama kemudian, ayah AA pulang lebih dahulu,” ceritanya.
Setelah kembali mendapat panggilan dari anak bungsunya, kedua orang tua AA akhirnya memutuskan pulang. “Kami langsung pulang, tapi jalan santai karena kami pikir anak-anak mungkin sedang bermain, Namun sesampainya di rumah, suasana berubah menjadi panik suami saya sudah menangis,” kata AT.
AT kemudian bergegas menuju rumah dan meminta bantuan tetangga. “Saya langsung lari. Saya panggil tetangga, lalu kakak di rumah sebelah. Kami lihat kondisinya sudah tidak bergerak tergantung di dapur,” ungkap AT.
Keluarga kemudian berupaya memberikan pertolongan dan menurunkan AA. Kerabat yang berdatangan setelah mendengar kabar tersebut juga langsung panik.
Ayah AA, Adriansyah, kemudian menceritakan kondisi yang dilihatnya kepada keluarga. “Ayah AA langsung bilang bagaimana dia temukan anaknya dalam posisi gantung diri dan sudah tidak bernyawa, kami langsung panik. Di situ saya menangis,” kata AT.
Kakak Adriansyah, Boni, yang saat kejadian sedang mengerjakan fondasi, turut mendatangi rumah setelah mendengar kabar tersebut. Bersama Tante Nurjan, ia melihat kondisi AA. “Begitu datang, kami lihat anak (AA) sudah tidak bernyawa. Kami juga heran, kenapa bisa dia sampai begini,” ujar keluarga.
Sementara Kapolsek Obi Selatan IPDA Syamsuddin Upara membenarkan pihaknya menerima laporan mengenai kematian AA. Polisi kemudian melakukan konfirmasi kepada Pemerintah Desa Ocimaloleo.
“Iya betul. Saya sudah mengkonfirmasi kejadian ke Pemdes, ada info kejadian itu,” kata Syamsuddin saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (13/8/2026).
Syamsuddin mengatakan penyidik telah menemui orang tua A untuk memperoleh keterangan awal. Polisi juga telah mendatangi tempat kejadian perkara.
“Penyidik sudah ketemu orang tua korban, polisi tidak berhenti pada informasi awal mengenai peristiwa tersebut. Penyidik akan mendalami motif serta rangkaian kejadian yang melatarbelakangi kematian korban,” ujarnya.
Ia menambahkan penyidik masih melakukan pendalaman terhadap kondisi di lokasi kejadian serta keterangan keluarga dan pihak-pihak terkait.
“Bahkan penyidik sudah turun TKP dan akan dalami motifnya. Untuk pendalaman penyidik di lokasi kejadian dan pemeriksaan terhadap keluarga korban maupun pihak terkait agar memastikan penyebab dan motif gantung diri,” sambung IPDA Syamsuddin Upara.
Penyelidikan kepolisian menjadi penting untuk memastikan penyebab kematian AA secara objektif. Keterangan keluarga, sekolah, pemerintah desa, dan warga menjadi bagian dari informasi awal yang masih harus diverifikasi oleh penyidik.
Hingga kini, polisi belum menyampaikan kesimpulan mengenai motif maupun penyebab pasti kematian AA.
