Agustus 30, 2026

SIWO PWI Sentil Format Baru Bupati Cup Halsel: Jangan Tiap Tahun Cuma Cetak Juara

Asbar Ikram

Asbar Ikram Redaksi Fala

Mursal Bahtiar Sekertaris SIWO PWI Halmahera Selatan (dok: istimewa)

Fala.co.id – Format Bupati Cup Halmahera Selatan (Halsel) 2026 mengalami perubahan. Jika pada 2025 kompetisi menggunakan sistem zona dengan kesebelasan desa sebagai peserta, tahun ini turnamen diarahkan menjadi kompetisi antar kecamatan dengan skema satu kecamatan satu tim.

Perubahan format tersebut mendapat sorotan dari Sekretaris Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Halmahera Selatan, Mursal Bahtiar. Ia menilai format baru berpotensi menjadi sarana pencarian pemain terbaik, tetapi harus diikuti aturan seleksi yang transparan dan seragam.

“Format baru ini bagus kalau tujuannya mencari pemain terbaik. Tapi aturan seleksinya harus jelas. Siapa yang memilih, apa ukurannya, dan bagaimana status pemain harus selesai sebelum pertandingan dimulai,” kata Mursal, Minggu (23/8/2026).

Dalam format 2026, setiap kecamatan melakukan seleksi pemain dari desa-desa di wilayahnya sebelum membentuk satu skuad untuk berlaga di tingkat kabupaten. Pemain dari desa yang tidak lolos seleksi juga masih berpeluang dipanggil memperkuat tim kecamatan.

Menurut Mursal, proses tersebut berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak disertai standar seleksi yang sama. Ia mengingatkan agar celah bagi pemain titipan, dominasi satu desa maupun sengketa status pemain ditutup sejak awal.

“Kalau membawa nama kecamatan, semua pemain terbaik harus punya peluang yang sama. Jangan sampai tim kecamatan justru hanya dikuasai satu desa atau kelompok tertentu,” ujarnya.

Mursal menilai perubahan format Bupati Cup 2026 seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi kompetisi. Hal yang lebih penting, kata dia, adalah keberlanjutan pembinaan pemain setelah turnamen berakhir.

Menurutnya, Bupati Cup selama ini telah membawa semangat pencarian bibit sepak bola daerah. Namun ukuran keberhasilan tidak semestinya hanya berdasarkan jumlah penonton, hadiah, juara atau kemeriahan pertandingan.

“Setiap tahun pasti ada juara, ada bonus dan ada pemain terbaik. Tapi setelah turnamen selesai, pemainnya ke mana? Berapa yang naik ke level lebih tinggi? Itu yang harus mulai menjadi psi dan target turnamen daerah agar pengembangan atlet harus punya masa depan,” katanya.

Ia meminta pemerintah daerah menjadikan pemain terbaik, pencetak gol terbanyak dan talenta muda yang muncul dari Bupati Cup sebagai bagian dari sistem pembinaan berkelanjutan.

Pemain tersebut, kata Mursal, perlu masuk dalam database pembinaan dan diberikan kesempatan mengikuti pelatihan, seleksi, trial hingga memperoleh akses ke klub atau kompetisi dengan level yang lebih tinggi.

“Kalau memang pernah ada pemain yang direkrut, buka hasilnya. Berapa yang dibina, berapa yang berkembang dan berapa yang akhirnya bermain di level lebih tinggi. Jangan sampai setiap tahun hanya ada juara baru, tapi tidak ada pemain baru yang main di kasta lebih tinggi,” tegasnya.

Sorotan Mursal tidak hanya menyangkut format dan pembinaan. Ia juga meminta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Halsel membuka pagu serta komponen pembiayaan Bupati Cup 2026 kepada publik.

Permintaan tersebut disampaikan karena pelaksanaan Bupati Cup 2026 berlangsung di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah. Hingga kini, nominal spesifik anggaran Bupati Cup Halsel 2026 belum ditemukan dipublikasikan secara rinci.

Menurut Mursal, transparansi anggaran diperlukan bukan semata untuk mengetahui besar kecilnya dana yang digunakan, tetapi juga untuk melihat dampak yang dihasilkan terhadap pembinaan sepak bola daerah.

“Kalau anggarannya besar, hasilnya juga harus kelihatan. Uang jangan selesai ketika final selesai. Harus ada pembinaan yang tetap berjalan setelah turnamen,” ujarnya.

Ia menilai format satu kecamatan satu tim justru dapat menjadi momentum untuk memperbaiki pola pembinaan sepak bola di Halsel. Dengan seleksi yang lebih luas, pemain dari berbagai desa memiliki kesempatan untuk masuk dalam skuad terbaik kecamatan.

Namun, kesempatan tersebut harus diikuti sistem yang jelas sejak proses seleksi hingga pembinaan pasca turnamen. “Pemain Halsel jangan hanya dikenal selama Bupati Cup. Harus ada jalan setelah turnamen supaya mereka bisa berkembang dan punya nilai sebagai pemain,” kata Mursal.

Mursal menegaskan perubahan format Bupati Cup 2026 harus menghasilkan lebih dari sekadar juara. Menurut dia, keberhasilan turnamen juga harus diukur dari munculnya pemain-pemain yang mampu melanjutkan karir ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.

“Kalau Bupati Cup mau naik kelas, aturannya harus jelas, anggarannya harus punya hasil dan pemainnya harus punya masa depan. Jangan setiap tahun hanya melahirkan juara, tapi tidak melahirkan pemain yang benar-benar bisa dipakai di level kompetisi lebih atas,” pungkasnya. (*)

Berita Lainnya

28 Agustus 2026

Gubernur Sherly Tjoanda dan Harita Nickel Buka Lebih Banyak Peluang untuk Maluku Utara

26 Agustus 2026

Di Hadapan 503 Mahasiswa Baru, Presiden Dema IAIN Ternate Kadir Ikram Bicara Keras soal Budaya Baca

25 Agustus 2026

Kusu Island Resort Dilidik Polda Malut, DPRD Halsel Siapkan Kunjungan Lapangan

25 Agustus 2026

Halsel Sumbang 210 Kasus HIV, Politisi Gerindra Desak Pengawasan Diperketat

23 Agustus 2026

SIWO PWI Sentil Format Baru Bupati Cup Halsel: Jangan Tiap Tahun Cuma Cetak Juara

23 Agustus 2026

Federalisme Kantong Kosong

Trending

Di Hadapan 503 Mahasiswa Baru, Presiden Dema IAIN Ternate Kadir Ikram Bicara Keras soal Budaya Baca

Kusu Island Resort Dilidik Polda Malut, DPRD Halsel Siapkan Kunjungan Lapangan

Halsel Sumbang 210 Kasus HIV, Politisi Gerindra Desak Pengawasan Diperketat

SIWO PWI Sentil Format Baru Bupati Cup Halsel: Jangan Tiap Tahun Cuma Cetak Juara