Fala.co.id — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi Bupati Halmahera Selatan Hasan Ali Bassam Kasuba untuk melihat kembali perjalanan daerah dan hubungan pembangunan daerah dengan kebijakan pemerintah pusat.
Di usia 81 tahun Indonesia merdeka, Bassam menyebut Halmahera Selatan masih tergolong daerah muda. Kabupaten yang dikenal dengan sebutan Bumi Saruma itu baru berusia 23 tahun sejak dimekarkan pada 2003.
Rentang usia tersebut, menurut Bassam, menunjukkan bahwa perjalanan kemerdekaan nasional dan pembangunan daerah memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Kemajuan Halsel tidak berdiri sendiri, tetapi turut dipengaruhi kebijakan pemerintah pusat serta kontribusi para pemimpin dan pendahulu bangsa.
“Pastinya kita pemerintah daerah punya harapan besar terhadap dukungan pemerintah pusat untuk menopang dan mendorong pembangunan di daerah ini. Meski begitu kita harus menyesuaikan dengan situasi nasional dengan berbagai aspek,” ujar Bassam merespons dinamika kemajuan dan kemerdekaan di wilayah Halsel, Senin (17/8/2026).
Bassam mengatakan pembangunan Halmahera Selatan saat ini merupakan bagian dari perjalanan panjang yang melibatkan banyak pihak. Ia menyinggung kontribusi para pahlawan dan tokoh nasional dari kawasan Indonesia Timur dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Menurut dia, relasi antara perjuangan nasional dan pembangunan daerah terus berlanjut hingga saat ini.
“Ada kontribusi dari para pahlawan dan tokoh nasional dari wilayah Indonesia timur untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Tentu hingga sekarang relasi itu tidak pernah putus dan terus berkesinambungan, faktanya pembangunan nasional berkorelasi ke daerah Halsel ketika diberikan otonomi khusus oleh pemerintah pusat pada tahun 2003 sebagai daerah otonom baru. Ini semua tidak terlepas dari perjalanan panjang intervensi negara atas jerih payah para pendahulu di bumi saruma,” ungkap Bassam.
Bagi Bassam, pemekaran Halsel pada 2003 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pembangunan daerah. Status sebagai daerah otonom baru membuka ruang bagi pemerintah daerah untuk mengelola pembangunan dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat secara lebih mandiri.
Bassam menyadari kebutuhan pembangunan di Halsel masih besar, terutama dalam pemenuhan infrastruktur dan pelayanan dasar masyarakat. Namun, ia mengatakan dukungan pemerintah pusat terhadap daerah berjalan secara bertahap dan mengikuti kemampuan fiskal serta kondisi nasional.
“Kontribusi negara ke Halsel secara bertahap sudah kita rasakan manfaatnya dari berbagai aspek. Prinsipnya pemerintah daerah tetap berupaya mendorong kebutuhan rakyat dengan melihat kondisi nasional,” tutur Bassam.
Ia menilai pembangunan tidak semata-mata dapat diukur dari seberapa banyak bantuan atau intervensi yang diberikan pemerintah pusat. Yang tak kalah penting adalah kemampuan pemerintah daerah menerjemahkan dukungan tersebut menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
Di tengah perayaan HUT ke-81 RI, Bassam juga mengingatkan bahwa kemerdekaan membawa tanggung jawab bersama. Persoalan ketimpangan dan berbagai tantangan pembangunan, kata dia, tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah.
Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran dalam menentukan arah masa depan daerah.
“Sebab kemerdekaan bangsa dan daerah ini kita punya tanggung jawab dan andil secara bersama-sama bukan hanya satu dua orang atau hanya segelintir maupun kelompok tertentu saja. Maka kuncinya kita harus menghadirkan solusi bersifat konstruktif tidak hanya mengeluh tapi bersinergi dengan pemangku kepentingan bersama masyarakat yang ada agar sama-sama menata daerah lebih baik kedepannya demi kesejahteraan dan kemerdekaan secara kolektif,” pungkasnya.
Bagi Halmahera Selatan, usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia bukan sekadar angka dalam perayaan tahunan. Momentum itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diterjemahkan menjadi pembangunan, kesempatan yang lebih adil, dan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat hingga ke pelosok Bumi Saruma.
