Oktober 20, 2026

Berita Tanpa Konfirmasi, Sekertaris PWI Halsel Sebut Tuduhan terhadap Dirinya Fitnah

Asbar Ikram

Asbar Ikram Redaksi Fala

Sadam Hadi (dok: istimewa)

Fala.co.id – Abdurrahman Hamzah dan Hi. Halik Idris membantah pernah menyerahkan uang kepada Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Halmahera Selatan, Sadam Hadi. Keterangan keduanya sekaligus menjawab tudingan yang beredar melalui laman MapsNews.com berbasis Blogger Google.

Abdurrahman menegaskan tidak pernah memberikan uang Rp5 juta kepada Sadam sebagaimana informasi yang beredar. Ia juga mengaku tidak mengetahui bagaimana namanya kemudian dikaitkan dengan narasi tersebut.

Menurutnya, tidak pernah ada proses konfirmasi kepadanya sebelum berita atau informasi itu dipublikasikan.

“Saya tidak pernah memberikan uang Rp5 juta kepada Sadam. Soal pemberitaan itu saya juga tidak tahu-menahu bahkan tidak mengenal identitas wartawan, karena ada nomor yang hubungi saya tapi tidak konfirmasi layaknya seorang jurnalis. Mungkin cara dia beda ya kok bisa bahasa candaan dan respons saya biasa saja tapi dinarasikan berbeda dengan fakta,” kata Abdurrahman saat dikonfirmasi.

Abdurrahman kemudian mengungkap adanya komunikasi WhatsApp dari nomor yang tidak dikenalnya. Isi percakapan itu, menurut dia, mengarah pada materi yang sebelumnya hanya dibicarakan dalam ruang komunikasi pribadi bersama sejumlah rekan pengusaha.

Ia menilai percakapan dalam ruang privat tidak dapat begitu saja ditarik menjadi bahan publikasi tanpa terlebih dahulu meminta penjelasan dari orang-orang yang berkaitan dengan pembicaraan tersebut.

“Ada nomor yang saya tidak kenal melakukan percakapan WhatsApp dan pembicaraannya mengarah ke hal-hal yang sebelumnya ada di grup pribadi sesama teman. Kalau kemudian percakapan pribadi itu mau dijadikan berita, seharusnya konfirmasi dulu kepada saya. Sampai berita itu terbit, saya tidak pernah dikonfirmasi. Karena itu saya menyimpulkan apa yang diberitakan tersebut tidak benar dan menyesatkan,” ujarnya.

Keterangan berbeda juga datang dari Hi. Halik Idris alias Hi Malang. Ia membantah pernah memberikan uang Rp 30 juta kepada saudara Sadam Sadi sebagaimana dituduhkan.

Selain itu, ia mengaku tidak memiliki hubungan pribadi dengan Sadam. Ia mengatakan keduanya belum pernah bertemu sehingga tudingan mengenai adanya penyerahan uang dinilainya tidak sesuai kenyataan.

“Saya tidak kenal Sadam. Bertemu dengannya juga belum pernah. Jadi bagaimana mungkin saya memberikan uang. Satu rupiah pun saya tidak pernah kasih kepada Sadam,” tegas Hi. Malang sapaan akrab, Hi Halik Idris saat dikonfirmasi Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, aktivitasnya belakangan ini lebih banyak berkaitan dengan mengurus kebun. Ia juga mengaku tidak mengetahui dari mana keterangan yang mengatasnamakan dirinya tersebut berasal.

Bantahan dua orang yang namanya dikaitkan dengan dugaan pemberian uang itu turut mendapat respons Sadam Hadi. Ia menolak seluruh tudingan yang menyebut dirinya meminta ataupun menerima uang dengan membawa kepentingan PWI Halmahera Selatan.

Sadam menilai tuduhan tersebut tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan dan telah menimbulkan informasi keliru di ruang publik.

“Tudingan itu tidak benar. Saya tegaskan bahwa itu fitnah. Kalau memang produk jurnalistik, mestinya seorang wartawan bekerja dengan jelas, datang melakukan konfirmasi dan menguji informasi. Bukan membuat tuduhan kemudian menyebarkannya kepada publik,” kata Sadam.

Sadam juga mempersoalkan proses lahirnya informasi tersebut. Menurutnya, kerja jurnalistik tidak berhenti pada memperoleh suatu cerita, tetapi harus memastikan setiap keterangan diuji kepada pihak yang disebut sebelum disampaikan kepada masyarakat.

Dalam penelusuran terhadap laman yang memuat tudingan itu, MapsNews.com diketahui menggunakan platform Blogger Google. Artikel tersebut tidak menampilkan nama personal wartawan yang bertanggung jawab atas penulisannya dan hanya mencantumkan identitas “Redaksi NEWS”.

Situs tersebut memang memiliki halaman redaksi yang mencantumkan badan usaha, pimpinan redaksi, editor dan sejumlah nama jurnalis. Namun identitas wartawan yang secara khusus melakukan wawancara, memperoleh informasi hingga menyusun tulisan mengenai Sadam tidak ditampilkan pada artikel bersangkutan.

Bagi Sadam, penggunaan suatu platform bukan persoalan utama. Hal yang menurutnya jauh lebih penting ialah kepastian mengenai sumber informasi, proses verifikasi, konfirmasi kepada pihak yang dituduh dan pertanggungjawaban atas setiap fakta yang dipublikasikan.

Ia menilai sebuah produk jurnalistik tidak dapat dibangun hanya dari tuduhan, terlebih ketika materi yang disampaikan berpotensi merusak nama seseorang maupun organisasi.

“Bagi saya itu bukan pemberitaan yang kredibel. Isinya membawa tuduhan serius, tetapi saya sendiri tidak pernah dimintai klarifikasi. Orang-orang yang namanya dibawa dalam berita itu sekarang juga membantah. Kalau caranya seperti itu, yang lahir bukan informasi yang sehat, tetapi kabar yang menyesatkan masyarakat,” katanya.

Sadam menyebut informasi yang menurutnya menyerang dirinya dengan pola serupa bukan baru sekali terjadi. Ia mengaku telah beberapa kali menemukan kejadian yang dinilai memiliki karakter hampir sama.

Meski demikian, ia belum menyebut identitas siapa pun sebagai pihak yang bertanggung jawab. Sadam mengatakan dugaan mengenai pelaku masih membutuhkan pembuktian sebelum disampaikan kepada publik.

“Kejadian seperti ini sudah berulang. Saya menduga polanya mengarah pada orang yang sama, tetapi saya tidak mau mendahului bukti. Bisa saja karena iri atau alasan lain, saya tidak tahu. Yang jelas, jejaknya semakin terbuka dan saya yakin tidak lama lagi akan diketahui siapa yang berada di baliknya,” ujar Sadam.

Ia menegaskan penelusuran yang dilakukan bukan alasan untuk membangun tuduhan baru kepada pihak tertentu. Menurutnya, nama seseorang baru layak disebut apabila terdapat fakta dan bukti yang cukup untuk dipertanggungjawabkan.

Sadam juga tidak mempersoalkan kritik maupun pemberitaan terhadap dirinya sebagai pengurus organisasi profesi. Namun ia meminta setiap informasi yang menyangkut tuduhan serius disusun melalui proses jurnalistik yang jelas.

Baginya, media memiliki kebebasan melakukan kontrol, tetapi kebebasan tersebut berjalan bersama kewajiban menguji informasi serta memberikan ruang kepada seluruh pihak yang berkaitan dengan suatu peristiwa.

“Silakan kritik saya, silakan beritakan saya, tetapi gunakan fakta. Jangan nama orang dibawa, lalu keterangannya dibuat seakan-akan benar tanpa proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Jurnalisme harus mencari kebenaran, bukan menciptakan cerita untuk menghukum seseorang,” tandasnya.

Sadam memastikan persoalan tersebut tidak akan berhenti pada klarifikasi di ruang publik. Ia menyatakan akan menyerahkan penanganannya kepada kepolisian agar jejak pihak yang diduga berada di balik penyebaran informasi tersebut dapat ditelusuri melalui proses hukum. Sikap serupa juga disampaikan Abdurrahman Hamzah dan Hi. Malang yang menyatakan siap menempuh langkah hukum atas penggunaan nama serta keterangan yang mereka bantah.

Menurut Sadam, rangkaian jejak yang telah dikumpulkan membuat identitas pihak yang diduga menyebarkan tudingan itu semakin dekat untuk diketahui. Ia memilih menyerahkan pembuktiannya kepada aparat penegak hukum agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi saling tuduh tanpa dasar.

“Sejengkal lagi pelakunya ketahuan. Kalau masih merasa aman di balik fitnah itu, sebaiknya segera minta maaf. Setelah ini biar polisi yang membuka siapa sebenarnya yang bermain,” tegas Sadam.

Berita Lainnya

19 Oktober 2026

Rangkap Jabatan Guru PPPK Paruh Waktu dan BPD Desa Lele Disorot, Berpotensi Double Funding

19 Oktober 2026

Membangun Generasi Emas: Kapolres Halsel Jadi Pembina Upacara di SMAN 7 Lewat Program Polidik

18 Oktober 2026

Hasil Tes Urine KRYD Halsel: Kafe Fortune Jadi Sorotan.

17 Oktober 2026

Tujuh Menit Terakhir Irham Aljokja

17 Oktober 2026

Minta Nakes Humanis, Bupati Bassam Kasuba Pastikan Seluruh Warga Halsel Dapat Layanan Kesehatan Layak

16 Oktober 2026

Jalan Lingkar Makian Berpolemik, Tokoh Pemuda Siap Kawal Proyek Rp 10,5 Miliar

Trending

Membangun Generasi Emas: Kapolres Halsel Jadi Pembina Upacara di SMAN 7 Lewat Program Polidik

Hasil Tes Urine KRYD Halsel: Kafe Fortune Jadi Sorotan.

Tujuh Menit Terakhir Irham Aljokja

Minta Nakes Humanis, Bupati Bassam Kasuba Pastikan Seluruh Warga Halsel Dapat Layanan Kesehatan Layak