Empat tahun telah berlalu.
Lapangan Patra Alam Samargalila di Halmahera Selatan masih ramai. Bola terus bergulir, pemain datang silih berganti, dan sorak penonton tetap memecah kesunyian sore. Namun, di antara keramaian itu, ada satu sosok yang tak lagi terlihat.
Namanya Irham Aljokja. Orang-orang akrab menyapanya Ko Ir.
Waktu telah membawa kepergiannya semakin jauh. Tetapi kenangan tentang lelaki bernomor punggung 17 itu seolah masih tertinggal di setiap sudut lapangan. Tempat ia menghabiskan masa muda, membangun persahabatan, hingga menutup perjalanan hidupnya.
Sabtu sore, 23 Juli 2022, menjadi hari terakhir Ko Ir bermain sepak bola. Mengenakan jersei biru, ia memasuki lapangan dengan semangat yang tak pernah benar-benar menua.
Pertandingan baru berjalan sekitar tujuh menit ketika kondisi tubuhnya mendadak menurun. Ia tak mampu melanjutkan permainan dan segera dilarikan ke RSUD Labuha. Rekan-rekannya menanti kabar kesembuhan, tetapi yang datang justru berita duka.
Ko Ir meninggal dunia.
Sore itu, sepak bola kehilangan salah seorang pencintanya yang paling setia. Tak ada tambahan waktu, tak ada kesempatan mengulang pertandingan. Lelaki yang sepanjang hidupnya mengejar bola itu akhirnya harus berhenti.
Nomor 17 dan Sepak Bola yang Dicintainya
Lahir pada 19 Desember 1974, Irham merupakan salah satu pemain yang ikut mewarnai perjalanan sepak bola Maluku Utara.
Ia pernah memperkuat Persiter Ternate, kesebelasan berjuluk Laskar Kie Raha yang berhasil menembus kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Bersama Qwetly Alweny, Ahmad Sembiring, Irwan M. Zen, hingga Sahjuan Doa, sang Panzer dari Mareku, Ko Ir menjadi bagian dari generasi yang pernah mengangkat nama Persiter.
Sebagai gelandang jangkar, ia dikenal tangguh, cermat membaca permainan, dan memiliki umpan terukur. Nomor 17 hampir tak pernah lepas dari punggungnya, seolah angka itu telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Selain Persiter, ia pernah membela Persihalsel, Universitas Khairun Ternate, Anasir FC, Banteng FC, hingga AMS Football Club.
Ketika masa bermain di kompetisi liga berakhir, Ko Ir tidak meninggalkan sepak bola. Berbekal lisensi kepelatihan D, ia memilih membimbing generasi muda. Di bawah arahannya, tim sepak bola Halmahera Selatan pernah meraih medali emas pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah. Ia juga dipercaya menangani Persihalsel dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi.
Bagi Ko Ir, usia boleh mengurangi kecepatan kaki, tetapi tidak dengan kecintaannya kepada sepak bola.
Kenangan dari Tribun Kayu
Saya masih mengingat sebuah sore ketika turnamen Piala Bupati Halmahera Selatan berlangsung.
Di sudut tribun sederhana yang terbuat dari kayu, Ko Ir sedang memberikan arahan kepada para pemain binaannya. Ia berbicara tentang kemenangan, kekalahan, dan pentingnya mengendalikan emosi. Lalu menyebut satu karakter yang menurutnya harus dimiliki setiap pemain.
Karakter membunuh.
Bukan tentang kekerasan, melainkan keberanian menghentikan setiap ancaman lawan sebelum menjadi gol. Begitulah cara seorang mantan gelandang jangkar mengajarkan ketegasan dalam pertandingan.
Di luar lapangan, Ko Ir merupakan seorang aparatur sipil negara. Namun, setiap selesai bekerja, Samargalila hampir selalu menjadi tempat yang ditujunya. Di sana ia bermain, melatih, atau sekadar menikmati percakapan bersama sahabat-sahabatnya.
Kepeduliannya terhadap pembinaan pemain muda juga membawanya terlibat dalam pembentukan Komunitas Pemerhati Sepak Bola atau Kompas Halmahera Selatan.
Dalam keseharian, ia dikenal menjaga salat lima waktu. Peci putih yang dikenakannya ketika pergi ke masjid menjadi bagian dari sosoknya yang akrab bagi orang-orang di sekitarnya.
Ko Ir juga penggemar berat Manchester United. David Beckham, Roy Keane dan tentu Eric Cantona adalah 3 pemain yang dikaguminya. Setiap Piala Dunia tiba, Inggris selalu menjadi kesebelasan yang dijagokannya.
Saya membayangkan, seandainya ia masih hidup ketika Piala Dunia 2026 berlangsung, tentu akan ada banyak perdebatan menarik tentang sepak bola Inggris.
Namun, Ko Ir telah pergi sebelum turnamen itu dimulai.
Percakapan Terakhir yang Tertinggal
Sekitar sepekan sebelum meninggal dunia, saya bertemu Ko Ir dalam sebuah pertandingan di Lapangan Samargalila. Hari itu saya bertugas sebagai wasit tengah.
Di tengah permainan, ketika kehilangan penguasaan bola, ia sempat menyampaikan sebuah permintaan.
Ko Ir ingin perjalanan karier sepak bolanya dituliskan.
Saya hanya menganggukkan kepala. Perhatian saya masih tertuju pada pertandingan yang sedang berlangsung. Sekitar tujuh menit menjelang babak pertama berakhir, ia ditarik keluar.
Saya tidak pernah menyangka bahwa percakapan singkat itu menjadi pertemuan terakhir kami.
Beberapa hari kemudian, dalam pertandingan berbeda, Ko Ir kembali turun bermain. Yudi Alkani sempat mencetak gol pembuka pada menit ketiga. Namun, sekitar menit ketujuh, kondisi Irham menurun hingga tak mampu melanjutkan laga.
Itulah pertandingan terakhirnya.
Ada kebetulan yang hingga kini masih saya ingat. Tujuh menit menjelang akhir babak pertama ketika kami terakhir berbicara, lalu tujuh menit pada pertandingan terakhirnya. Sementara angka 17 begitu lama melekat pada punggungnya.
Saya tidak menganggapnya sebagai pertanda. Hanya saja, setelah seseorang pergi, hal-hal kecil yang dahulu terasa biasa sering berubah menjadi kenangan yang sulit dilupakan.
Terutama permintaannya agar perjalanan hidupnya dituliskan. Sebuah keinginan yang belum sempat saya penuhi ketika ia masih ada.
Empat Tahun Setelah Kepulanganmu
Kini, empat tahun telah berlalu sejak Ko Ir meninggalkan lapangan untuk selamanya.
Samargalila masih menjadi tempat orang-orang mengejar bola. Pemain-pemain baru bermunculan, pertandingan terus berlangsung, dan sepak bola Halmahera Selatan berjalan mengikuti waktu.
Tetapi bagi mereka yang pernah mengenalnya, Ko Ir bukan sekadar mantan pemain Persiter atau pelatih sepak bola daerah. Ia adalah sahabat, guru, sekaligus bagian dari kenangan yang tumbuh bersama lapangan itu.
Saya sendiri masih menyimpan satu penyesalan kecil.
Ketika Ko Ir meminta perjalanan kariernya dituliskan, saya hanya menjawab dengan anggukan. Seandainya waktu memberi kesempatan lebih panjang, mungkin ada banyak cerita yang ingin saya dengar langsung darinya. Tentang Persiter, nomor punggung 17, kemenangan yang paling berkesan, hingga alasan mengapa ia begitu setia kepada sepak bola.
Namun, kesempatan itu telah berlalu.
Empat tahun kemudian, saya kembali mengenang lelaki yang pernah memberikan sebagian besar hidupnya kepada olahraga yang dicintainya. Bukan untuk menjadikannya sosok tanpa kekurangan, melainkan mencatat bahwa Halmahera Selatan pernah memiliki seorang pesepak bola yang terus mengabdi, bahkan ketika usianya tak lagi muda.
Ko Ir telah pergi. Tetapi cerita tentangnya masih hidup melalui sahabat, rekan setim, dan anak-anak muda yang pernah menerima bimbingannya.
Barangkali begitulah cara seseorang tetap tinggal dalam ingatan. Bukan karena waktu berhenti ketika ia meninggal, melainkan karena kebaikan dan pengabdiannya terus dikenang.
Selamat jalan, Ko Ir.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosamu, menerima amal ibadahmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Empat tahun sudah engkau pulang. Lapangan masih ramai, bola terus bergulir, tetapi ada satu suara yang tak lagi terdengar di antara kami.
Dan hari ini, saya akhirnya memenuhi permintaan yang pernah kau sampaikan di tengah pertandingan.
Ko Ir, kisahmu telah kutuliskan. Sayangnya, engkau tak lagi di sini untuk membacanya.
